Innalillahi, Ternyata sebelum Meninggal Nabi Muhammad SAW Sakit Kepala

Ilustrasi Masji Nabawi (Foto/Pixabay)

Kisah Nabi Muhammad SAW menarik untuk diceritakan kembali. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari ceritanya. Mulai dari kisah kelahiran hingga wafatnya.

Banyak umat Islam mengenal tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hari kelahirannya diperingati dalam acara Maulid Nabi. Di Acara Maulid ini diceritakan kisah nabi.

Sementara kisah wafatnya Nabi Muhammad SAW jarang dikisahkan. Padahal kisah wafatnya rasul pun memiliki arti penting untuk diketahui.

Nabi Muhammad SAW wafat pada usia 63 tahun. Ia meninggal pada Selasa, 12 Rabiul Awal 11 Hijriah. Sekitar 1430 tahun lalu. Sekarang tahun 1441 Hijriah bertepatan tahun 2020 Masehi.

Meski beliau seorang nabi yang diberikan mujizat ia tetap seperti manusia pada umumnya. Sebelum ia meninggal, ia mengalami rasa sakit kepala. Sakit kepala pada umumnya.

Pada Senin, 29 Shafar 11 Hijriah, Rasulullah mengahadiri pemakaman di Baqi. Dalam perjalanan pulang dari Baqi ke rumah, ia merasakan sakit kepala dan suhu badanya naik. Orang-orang dapat mengetahui tandanya dari urat nadi yang ada di bagian kepala nabi.

Dilansir dari Sejarah Hidup Muhammad karya Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, Nabi Muhammad SAW sakit selama tiga belas atau empat belas hari dan selama sebelas hari masi sakitnya, beliau tetap mengimami shalat.


Hari kelima dan ke empat sebelum wafat, Rasulullah mengalami rasa sakit yang luar biasa. Sakitnya makin parah dan serius. Hingga ia meminta diguyurkan dengan air agar lebih enak badannya.

Setelah itu, badannya mulau enak lagi. Hari kedua dan sehari sebelum wafat, rasa sakitnya mulai berkurang. Ia hanya merasakan sakit ringan.

Namun, detik-detik di akhir hayatnya, Rasulullah merasakan sakit yang parah lagi. Suatu riwayat menyebutkan karena pengaruh racun yang bernah beliau makan dari orang Yahudi waktu di Khaibar.

Saking hebatnya rasa sakit, Rasulullah mengucapkan, Ya, Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukan aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih yang Maha Tinggi.

Beliau mengulang ucapan itu tiga kali hingga tangannya lunglai dan ajal menjemputnya.Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Ia wafat waktu pagi jelang siang, Selasa 12 Rabiul Awal tahun 11 H.

Comments