Kocak, Ternyata Dinasti Politik Hanya Berlaku untuk Keluarga SBY Tak untuk Keluarga Jokowi


Ilustrasi dinasti politik Gibran (Twitter/@bepejeel)

humorberita.com - Pencalonan Gibran anak Jokowi menjadi calon wali kota Solo menuai kontroversi. Tudingan nepotisme atau dinasti politik terhadap Gibran menggaung di media sosial.

Tagar #RobohkanDinastiPolitik jadi trendi di laman Twitter. Gibran maju berhasil menyingkirkan calon PDIP sebelumnya Purnomo yang sudah ditetapkan oleh DPC Solo. Namun, berkat bapaknya presiden, Gibran berhasil yang maju di Pilkada Solo.

Tak hanya itu, partai-partai koalisi pemerintah pun beramai-ramai mendukung pencalonan Gibran. Gibran menjadi calon tunggal dan bahkan berpeluang ia menang karena melawan kotak kosong.

Sayangnya, beberapa partai atau pendukung Jokowi lupa sejarah. Sebelumnya, mereka mengecam model dinasti politik ini saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merestui anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maju di Pilgub DKI Jakarta pada 2012.

Padahal waktu itu, SBY tak lagi menjabat presiden. Tapi pendukung Jokowi, partai PDIP dan PSI mengecam SBY sedang membangun dinasti politik. Mereka mengkampanyekan dinasti politik kotor dan harus ditolak.

Namun, tujuh tahun berjalan, sikap mereka diam saat menyaksikan Jokowi merestui anaknya Gibran maju di Pilkada Solo. Kebetulan saat Gibran maju bapaknya sedang menjabat presiden. Dinasti politik bukan?

PDIP, PSI, dan para pendukung Jokowi lainnya bungkam. Tak bersuara. Mereka beralasan setiap orang punya hak politik untuk maju jadi wali kota. Bahkan Partai Gerindra, yang awalnya menolak dinasti politik, kini ikut mendukung Gibran. 

Menyaksikan mereka bungkam atas pencalonan wali kota Solo, warganet menyindir para pendukung Jokowi. 

"Ternyata kata DINASTI politik itu hy berlaku utk keluarga SBY. Tidak berlaku untuk keluarga Jokowi," ujar netizen dengan akun Twitter @ChristWamena, 18 Juli 2020. 

"Bukan Dinasti Politik, Tapi Keluarga Berkuasa," cuit Wahyu Budiono @bepejeel, 24 Juli 2020. Wakakak.

Comments