Friday, December 25, 2020

Menag Yaqut Cholil Qoumas, Reshuffle Kabinet yang Menyisakan Cerita Lucu bin Kocak


HUMORBERITA.COM - Reshuffle kali ini memunculkan kelucuan yang lebih kocak dari kasus salah sebut Mahfud MD saat Era Presiden Gus Dur. Banyak yang kaget ketika Jokowi menyebut Yaqut Cholil Qoumas sebagai menteri agama.


Ini kejutan sekaligus pertanyaan besar, apa tidak terjadi salah sebut nama atau salah catat di sekretariat negara yang tidak bisa membedakan Yaqut Cholil Qoumas dengan Yahya Cholil Staquf.


Anda yang tidak kenal dekat dengan silsilah dua orang ini dijamin bingung. Yaqut dan Yahya sama-sama putra almarhum K.H Cholil Bisri kakak kandung K.H Mustofa Bisri pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang.


Yaqut adalah adik kandung Yahya, yang di kalangan teman-temannya dipanggil Staquf. Yaqut ketua PB Anshor dan anggota DPR RI dari PKB, dan Staquf adalah katib aam atau sekretaris jenderal Syuriah NU.


Beberapa hari sebelum reshuffle beredar luas spekulasi Yahya Cholil Staquf akan menjadi menteri agama menggantikan Jenderal Fachrul Razi yang kontroversial karena pendekatan deradikalisasinya yang membabi buta.


BACA JUGA: Menteri Agama yang Tertukar, Gus Yaqut dan Gus Staqub?


Selama ini Kementerian Agama dianggap sebagai jatah NU. Karena itu ketika Jokowi bereksperimen dengan menunjuk jenderal TNI kalangan NU menjadi masygul dan Fachrul pun sering menjadi sasaran kritik.


Ketika isu reshuffle menggelinding nama Fachrul paling santer dikabarkan bakal digusur dan posnya akan dikembalikan kepada NU. Dua nama yang muncul di bursa adalah Agus Maftuh Abegebriel, dubes Indonesia di Arab Saudi, dan Yahya Cholil Staquf. Nama Yaqut Cholil Qoumas sama sekali tidak pernah disebut-sebut.


Karena itu ketika nama Yaqut disebut sebagai menteri agama banyak yang kaget. Jangan-jangan Sekretariat Negara salah sebut nama karena tidak bisa membedakan Yaqut dengan Staquf. Kalau benar demikian sungguh sebuah kecelakaan yang benar-benar menggelikan.


Ihwal blunder seperti ini bukan mustahil terjadi di Sekretariat Negara. Lembaga ini sudah berkali-kali membuat kesalahan administratif yang serius. Dalam kasus kontroversi UU Omnibus Law Sekretaris Negara beberapa kali membuat kesalahan.


Tapi, apapun kejadiannya dalam resafel kali ini NU bisa tersenyum lebar karena jatah yang diimpi-impikannya akhirnya bisa didapat. Sebaliknya Muhammadiyah bisa jadi tersenyum kecut karena tidak jadi ketambahan jatah. (Sumber diambil sebagian dan disarikan dari tulisan Dhimam Abror Djuraid, mantan pemred Koran Jawa Pos yang beredar di Grup WhatApp/Foto/Tirto)